Wednesday, 7 August 2013

[Isu]: Teguran Guru Pondok kepada Lelaki Bercouple






Bismillahirrahmanirrahim..Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Taqabballahu minna waminkum, ya Karim..

Sedang-sedang melayari laman sosial, mencari maklumat terbaru tentang di Syria,Mesir di samping tersenyum sendiri membaca pesanan raya daripada kawan-kawan, ambo terbaca tentang sesuatu. Yang buatkan seluruh dunia berhenti. Membuatkan jantungku tersentap.

Tentang Cinta. Ya, cinta.

Punca kekeliruan para remaja. Madu yang digaul dengan bisa ular tedung, menjadikan ia racun yang paling manis. Ramai yang terbelit dengannya, termasuk juga ambo.

Masih lagi seorang lelaki, walaupun ambo mula membaca tentang sida-sida. Terbawa dengan tiket "masuk minang" atau "cop dahulu", ambo terpedaya dengan cinta. Tapi, Allah menyayangi ambo..Berkat kekurangan fizikal, kebanyakan "undangan" ditolak.. Wakaka..Masya-Allah, alangkah bodohnya aku biarkan diri ini dipalit rasa cinta.

Berbalik pada topik utama, ambo terbaca sebuah status update yang dihantar oleh seorang rakan yang dihormati. Mesejnya berbunyi begini..



BERITA PANAS !!!

Hari ni,salah sorang kawan talaqqiku kantoi dengan syeikh yang dia ada berhubung dengan seorang wanita bukan mahram di phone..*yakni couple*...

Kemudian syeikh bagi nasihat yang sangat lembut tapi betul-betul menyentuh hati kami semua....

Syeikh: kamu suka dia?

Fulan: ya syeikh....

Syeikh: kamu suka tu suka-suka atau kamu rasa dia memang yang terbaik untuk menjadi teman hidupmu,menjadi ibu untuk anakmu,menjadi pembantu agamamu?

Fulan: ya syeikh...pada pandangan saya,dia yang terbaik untuk jadi teman hidup saya dan agama saya...

Syeikh: bila kamu akan menikahinya?

Fulan: lepas belajar syeikh...dalam 3 tahun lagi...

Syeikh: Jadi kenapa kamu rosakkan dia?Kamu bukan nak menikah sekarang?Kamu rosakkan dia sekarang dan 3 tahun akan datang?Kenapa kamu jadikan air mutlak menjadi air musta'mal tanpa sebab?Bukankah dia wanita suci yang bakal menjadi ibu untuk anakmu?Kenapa kamu bercouple dengannya sedangkan jika kamu sukakan dia,dia sukakan kamu.Bersabarlah hingga sampai waktu kalian benar-benar ingin menikah kemudian baru kamu jumpa ayahnya dan pinang dia secara suci?Bukankah cara itu lebih suci?

Wanita umpama air mutlak,mereka suci,tetapi apabila mereka mula berhubung dengan lelaki tanpa sebab,apatah lagi ber couple,wanita itu umpama air musta'mal..ia tidak boleh  untuk bersuci tetapi hanya digunakan untuk perkara selain bersuci seperti basuh pinggan,basuh najis,basuh punggung dan sebagainya...Apa kamu sanggup ibu untuk anakmu setaraf itu?Sesungguhnya wanita ini akalnya pendek,nafsu mereka didepankan atas segalanya,kalau lelaki datang ucapkan kata-kata palsu,mereka akan mempercayainya melebihi mereka percayakan al-quran...Sedangkan lelaki memang perangai mereka hanya main-main kecuali mereka benar-benar bersedia untuk nikah,tapi sekiranya mereka belum sedia,contohnya mereka masih belajar dan sebagainya,jelas permainan mereka dengan wanita itu hanya tipu daya.Tapi tipu daya semudah itu pun dapat menipu para wanita hingga membawa mereka ke ranjang perzinaan..itu tandanya akal mereka sangat pendek...

Nabi utuskan para lelaki sebagai penjaga para wanita bukan perosak mereka....bagi kamu,couple,chatting,cakap dalam phone semua itu dosa kecil sedangkan ia jelas haram kerana Allah haramkan kita untuk dekati zina....Dekati zina pun tak boleh,makna kata kalau kita masih jauh 50km dari zina,tapi 1cm kita gerakkan kaki ke arah zina itu telah haram kerana perintah ini....Jadi janganlah pandang remeh perkara zina ini...Sesungguhnya ramai yang mati tanpa berzina tetapi di Mahsyar kelak buku amalan mereka penuh dengan dosa zina.....Apa berbaloi kau bahagia sementara dengan teman wanita yang kau tak ingin nikahi diganti dengan azab neraka yang panasnya 70x ganda api dunia?

Note: kepada lelaki bapuk di luar sana yang gemar permainkan wanita...ketahuilah bahawa 
 adalah MUSUH ALLAH DAN MUSUH RASULULLAH ! ! ! Kalian permainkan para wanita yang akalnya pendek,tidak dapat bezakan baik dan buruk...memang para wanita walaupun akal pendek,tapi mereka dikurniakan sifat malu yang tinggi....FB,phone,Twitter,Internet ni semua dicipta dajjal untuk menghakis sifat malu para muslimah sehingga mereka jadi umpama kucing betina yang menggoda kucing jantan untuk mengawan...Wanita yang berpurdah yang kononnya wanita paling pemalu(tak mau orang lihat wajah mereka) pun pamerkan gambar mereka walaupun berpurdah di fb untuk tatapan jutaan lelaki bukan mahram,mereka tanpa segan silu bergurau senda,tanpa malu inbox lelaki dan sebagainya...Sekarang akal mereka tidak dapat jaga diri mereka,bahkan sifat malu juga tidak dapat jaga diri mereka..Jadi siapa yang bertanggungjawab menjaga maruah para bidadari Rasulullah kalau bukan LELAKI???

Lelaki yang couple dan yang bersayang-sayang dengan bukan mahram atas nama "tunang" tu..Tolong lah....Korang ada akal kuat..Korang tak bodoh....Korang nak memusuhi Allah dan
 rasul,itu hak korang...tapi korang kena sedar,nanti korang pun akan ada anak perempuan,korang suke ke jantan entah mana-mana berhubung,bermanja,bersayang secara haram dengan anak perempuan korang?kalau korang redha...nampak sangat korang dayus dan lelaki dayus Nabi khabarkan mereka DIHARAMKAN SYURGA KEPADANYA WALAUPUN BAUNYA..

Begitulah apa yang dicanangkan oleh Syeikh terbabit. Ya, bukan mudah untuk kita tinggalkan ini semua secara drastik. Tak mengapa, Allah akan memandang usaha dan niat kita walaupun kita tidak berjaya mengikis kesemuanya..Marilah bersama-sama kita mengambil momentum mujahadah Ramadhan ini untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat..:)

HAPPY EID MUBARAK..:D

Saturday, 3 August 2013

[Karya]: I am Sorry, Wan..

Bismillahirrahmanirrahim..Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Guys, have you been in a moment in your life, which you feel your presence is insignificant to everyone, including to your families, your peers, your love? The feeling inside is so hollow and you suddenly choked to a terrible fear: the second death..To die and forgotten..To remain insignificant..

Believe me, the feeling haunted me from the first day I was born.

The feeling that everyone detested you, flinched when see your tiny body squirming between the jocks and the perfects.
The feeling that everyone use you as a mere tool. Your friends use you whenever they need a nerd to solve their complicated essays on Biology. The girl you took fond of was toying you around, amused of your devotion towards her beauty. And, you always know that she's just jesting you around, but you simply can't resist her seduction. That hopeless feeling.
The grotesque feeling your family raised you as an investment, feeding you so you can pay them back when they are at their deathbeds.

Believe me, I experienced all stated above. The world has been damn cruel to me. But, this one person. Among the millions, she was the one. Who was never looked me as a introvert nerd, helpless boyfriend or an investment item.She's the one.

Now, picture in your mind, a women around 150 cm, with a stainless steel cane at her left hand. Her right hand was always at a very queer angle, and it never moved. And, please don't miss the details of her face; lined with age marks but still her  smile reflects such pure and genuine aura that made you want to burst into tears when seeing her smiling. She was my grandmother, which we called her Wan. And she was impaired due to a severe stroke.

The world and its population has done many sins to me. But enough of narrating their sins towards me. Now, I wan to recount to all of you my sins towards this person which changed my life. How cruel the world it is. It made me blind to the only source of love for me and when the scaffold was unbind, it took her away from me. Devastated. Annihilated. Down to the deepest abyss, I was. I am sorry, Wan....

You see, I was not born with a silver spoon in my mouth. I was the eldest, and my parents found it was very difficult to divide their commitments between raising a baby and their piles of work. So, they sent me to my grandmother, who lived in the suburbs of Ampang. I didn't blame they,tough. The world made my parents to do so.

I was educated in a Chinese kindergarden. One day, I descended from the yellow bus in front of my grandmother's house and my Wan was on a chair, probably cleaning the webs on the ceiling. She was smiling broadly, but suddenly she was in a state of imbalance and toppled from the chair. I was a small boy, horrified of the accident. I hurried to her, who seemed to be unconscious. But, I am unable to help her, no matter how I pulled her stunned hand, she wouldn't budge. I hoped I can get help faster on that day. Because I will never saw her walking like anybody else since that forsaken day. She was diagnosed of a half-body stroke. I am sorry, Wan...

At the age of 7, I was enrolled to a school. My grandmother seemed to overfeed me, as I was a "bit" plump in those days. As expected, the kids didn't love "round and cute boys" as my grandmother did. I was ostracized. The boys would kick me in the stomach or smear dirt on my shirt, without any solid excuses. I would return home with my shirt all dirty, and that was the only shirt I have. My grandmother would brushed the sands away gently with her tears streaming. I was helpless to stop the stream. How helpless I was. By letting my only love cried. I simply can't. I was scared. Of what? Of the oncoming world..I am sorry, Wan...

I survived the primary realm, and was quite relieved. Secondary school, seemed cool. New friends, new environment, new subjects, new experience. I stepped to a school in Kuala Lumpur with a broad smile. And I cursed, that day when I thought things will get better.

You know, when we were in the teenage years, and the Biology teachers said that our body would be in a state of hormonal imbalance, causing depression, anxiety and sometimes violence. Dear teacher, I think that the hormones in my body were in a state of craziness, because I experienced more than that. I was still a plump boy, and the girls would chuckle whenever they saw my round tummy, my gigantic glasses, or my baggy pants. The seniors seemed to think that I was predestined to become their slave. And, I obeyed them as my liege. The Devil was unleashed. Eager to prove that I was not a nerd, I involved in racial fights, smoking, truantcy. My dear grandmother didn't know of this, you know. But still, she can sense that violent radiance in my eyes. She would ask," Oh Along, how fast you have changed!". Then, I would bit my lips and walked away from her. I am sorry, Wan...

One day, when she delivered me to my hostel by taxi, and when I exited the cab, she took my hand, and looked me straight in my eyes. Her eyes were full of sorrow, like they were made from pools of disappointments and desolate sighs. Half whispering, she said to me," No more bickering. Focus on your study, Along". I forced my hand from her, and walked away from her. That week, I involved in two fights and smoked more cigarettes, and found my new passion to the Dunlop shoe glue. At the end of the week, she died due to heart attack and stroke. And, the last thing on world I had done to her is a scowl and a curse. I am sorry, Wan.....

Some people say, that we have only one true love in this world, and I think that I have lost mine. I swear to Allah, how I missed her warm smiles, our conversation in the night. I was scared of sleeping alone, so I will climbed to her bed and start a conversation, as I thought that ghouls were scared of my Wan's voice. And, sometimes I talked too much, and she was drowsy. Then, she would stroke my head gently until I was fall asleep and no ghouls can ever grabbed that tranquility and protections she had given to me. And, now my night was restless and agonizing..I am sorry, Wan...

There are days, she was teasing me and said,"Along, one day I would like to cradle your sons and daughters in my arm just like I cradled you from the first day you was born". Since then, I thought she was a deity, and immortal. How foolish I was. I am sorry, Wan....

She was poor. She has only a couple of shirts.But, she has one brown baju kurung, which was the only one she had in her possession. And, I would cry whenever she wore that special outfit. I once asked her, why she never ask for help from her sons and daughters, she would smile and said," I don't wan't when I am gone, they would be bickering on who should get the largest portion of the inheritance". Don't get me wrong, my uncles and aunts are good chaps, but my Wan simply can't take the risk. She could request for riches but she embraced poverty instead. Yet, she would never take herself as a beggar. She has thought me that money was not the essence. But, now..I endavoured  to find money to fund my study. I have forgotten her principles and become a materialistic person.. I am sorry, Wan...

Guys, our loved ones are humans. They did not live forever. Only Allah lives forever. Treasure the times you had with them. Embrace them. Hug them. Say to them that you love them.

I was standing beside her grave, and saw a close relatives of her was sobbing. I approached her and asked,

 "Aunty, why are you crying?".
She answered," I loved her.".
Then I said," Have you ever said to her that you love her?"
She said between her sobs," I almost said it once".

Look, before they go, say to them that you love them...I am sorry, Wan..

Friday, 2 August 2013

[Diari al-Mamluk]: Perjalanan Seorang KN




Bismillahirrahmanirrahim..

Kalam ini bukan sekadar kalam madah dan rasa. Bagi setiap generasi KN, ceritanya mungkin berbeza. Tapi, aku bukannya sesiapa, melainkan seorang hambaNya. Ceritaku mungkin basi tapi ikhlas dari hati. Madah ini bukan madah ular, melainkan sebuah catatan untuk diri.

2012

Pelantikan. Di hadapan orang ramai. Dipaksa Memberi Ucapan. Paranoia Abadi.

Setelah saat itu, setelah serban Legasi itu disarungkan, maka tergalaslah di pundak ini, satu perkara yang amat berat. Berhadapan dengan persepsi negatif. Dipaksa memgang jawatan nakhoda kepada sebuah kapal yang hampir karam. Bergelut peperangan personaliti yang tak berkesudahan. It's gonna be an epic.

2013

Tirai tahun baru dikuak. Dengan semangat,ilmu dan doa daripada ulama' Kedah dan Kelantan, ku orak langkah. Dilengkapi dengan barisan Nuqaba' yang berkaliber dan pancarona, membayangkan sebuah cerita yang akan berakhir dengan warna warni kemenangan. Struktur disusun semula, dengan visi Transformasi, Reformasi dan Islamisasi, momentum kebangkitan agama di Nusantara diambil manfaat. Kumpulan Qasidah pertama di SAMURA dengan nama Dsoutul Dzouqiyyah hasil cadangan rakan seperjuangan melakar muka baru di bumi ini. Majlis Tilawah al-Quran berjaya disempurnakan dengan kesakitan minima. Program "Shhh..Hanya Untuk Lelaki" dan "Tazkirah Digital" terbukti sebagai satu medium yang baik untuk menyalurkan mesej Islami dengan santai dan diterima oleh masyarakat yang variasi latar belakang. Kemuncaknya, Malam Kesnian Islam dengan kerjasama Aqsa Syarif Johor dan artis Ilahiyat negara, Hafiz Hamidun berjaya diadakan.

Kini, masa untuk berterus terang. Kejayaan di atas bukan milikku. Ianya milik Badan Nuqaba' SAMURA.

Mereka sudah berhempas pulas dengan semangat mengembalikan momentum BADAR yang lebih sgar dan diterima ramai. Mereka sudah banyak berkorban. Sudah banyak air mata dan peluh yang ditumpahkan dengan niat yang satu, untuk membentuk generasi Islami.

Maka, ingatilah tiap muka mereka dalam hati. Segala teguran mereka itu terselit hikmah kasih sayang, untuk kebaikan bersama. Ambo selaku ketua, ambo memainkan peranan yang nominal. Masih tidak dapat keluar dari kepompong eksentrik, ambo terus tenggelam dalam pembacaan dan pencarian khazanah ilmu. Sebagai ketua, ambo sudah gagal.

Tapi, ambo tahu usaha Badan Nuqaba' yang lain tidak akan menjadi sia-sia, karna amal yang ditujukan untuk Allah, nilainya besar. Segala masa yang dibelanjakan akan dibayar dan dicatat oleh Allah sebagai sebuah amal yang akan diimbal dengan ganjaran yang berlipat kali ganda. Jika kita ikhlas.

Tahun ini bukanlah kemuncak dalam karier kepimpinan ambo. Ambo giat bereksperimen, mencari formula yang terbaik. Mempraktikkan beberapa prinsip yang dianjurkan ahli falsafah Barat mahupun Islam. Berbeda dari Niccolo Machiavelli yang lebih selesa menjadi pemerhati, ambo pula menawarkan diri menjadi bahan eksperimen. Maka, segala kekacauan atau kekurangan, itulah hasil trial and error pada tahun ini.

Maka, hasil daripada uji kaji ambo pada tahun ini, akan ambo tinggalkan sebuah kitab yang disusun dan diberi nama Kitabul Imamah wal Auliya' ataupun The Book of Kings and Saints. Telah ambo catat segala pembacaan, makalah dan sumber ilmu berkenaan kepimpinan dalam itu, dan ambo rekodkan juga rentetan pada tahun ini sebagai pedoman para KN tahun-tahun hadapan. Sudah terlalu lama badan ini terlena, mungkin kebangkitannya tidak berlaku pada zaman ambo, tapi mungkin pada zaman hadapan, siapa tahu.

Akhir kata, ambo meminta maaf atas segala kekurangan.:D



Friday, 21 June 2013

[Karya]: Umpama Lilin (I)




Malam itu hujan lebat. Petir dan kilat bergilir-gilir menyambar dan memekakkan telinga. Deruan angin yang kencang umpama Katrina kedua melanda bandar itu. Tapi, di sebalik kedinginan malam itu, di sebuah jalan yang sepi, ada satu susuk tubuh yang sedang melutut, jelas menampakkan kekecewaannya. Dia melutut di hadapan sebuah restoran ala Arab, dengan air matanya mengalir laju persis hujan yang turun, dan tangannya menggenggam sejambak bunga ros yang lencun dibasahi air. Di tangan kirinya, sebuah kotak bujur yang diperbuat daripada baldu, didalamnya tersemat sebuah cincin berlian yang indah.

Dia membulatkan tekad. Jambak bunga itu dihumbannya ke tong sampah di tepi jalan itu. Dia berdiri, terserlah kekurangan fizikalnya. Dia mempunyai riak muka yang masih muda, dengan janggutnya yang tipis, tapi badannya bongkok seperti udang.Badannya kurus dan mukanya cengkung, dan matanya tajam cukup tajam untuk membuatkan kesemua orang yang lalu lalang merenung kepelikan susuk tubuh ini. dia berpaling lalu melangkah jalan dengan perlahan. Derapan kakinya pula tersekat-sekat, dengan ketempangan yang sedaya upaya diselindunginya.

Dia tiba di sebuah jambatan, yang menghubungkan dua tanah diantaranya sebuah sungai yang lebar dan laju arusnya. seiring dengan deruan angin yang dahsyat.Dia memanjat penghadang di tepi sungai itu, lalu menjerit dengan sekuat-kuat hatinya. Alangkah kejam dunia ini! merentap kesemuanya dari diriya. Dunia ini dirasakannya tidak adil, karna meminggirkannya hanya kerana kekurangannya. Ketika dia tekad untuk mengakhiri nyawanya, tiba-tiba dia terdengar satu suara,"Adakah Kami menciptakan kau hanya untuk menamatkannya sebegini?".

Dia tersentak. Kepalanya berdesing dan pancainderanya tiba-tiba tajam kembali setelah luntur dibalut emosi. Dia seperti tersedar daripada lena yang lanjang. Dia mendepakan tangannya ke arah langit, simbol kepasrahannya kepada abadi. Dia kini kembali dan amat menyesali pertimbangannya yang tidak waras itu. Dia menangis lagi, lalu dilemparkannya dengan seluruh adidaya cincin itu ke sungai. Biarlah arus sungai itu membawa cincin berlian itu jauh daripadanya, karna dia mempunyai kekasih baru, Kekasih Abadi.

****

Afrina setelah menyelesaikan tugas hariannya sebagai seorang suri rumah yang bertanggungjawab, kini mengambil sedikit masa untuk berehat-rehat di pondok buatan sendiri di karangan rumahnya. Dia menarik nafas lega. Hidupnya kini amat tenang dan lebih senang daripada dulu. Dia menggerenyet apabila memikirkan kondisi kehidupannya yang susah bersama Khalid, suaminya. Dulu di sewaktu bangku persekolahan, Khalid merupakan rakan sekelasnya. Memegang jawatan selaku Ketua Pengawas dan seorang pemain bola yang mewakili negeri, dia sememangnya menjadi idaman setiap wanita. Dia merupakan seorang yang bertanggungjawab dan memiliki ciri kepimpinan yang baik.

Memorinya laju mengimbas muka satu persatu rakan sekelasnya, memikirkan kehidupan mereka. Rakan baiknya, Sarah kini di London bermastautin di sana setelah membuka butik idamannya di sana. Amal, rakan baik Khalid kini memegang jawatan tinggi di sebuah syarikat bumiputera yang mengusahakan tanaman tebu yang terbesar di Malaysia. Tiba-tiba, dia terimbas sebuah muka yang cengkung. Yang tempatnya di kelas berada di hujun sana. Sendiri. Dia.

Sebelum peperiksaan SPM, ibarat bulan jatuh ke riba. Rupanya, Khalid menyimpan perasaan terhadap dia. Di antara kesemua lautan peminatnya, Khalid memilih Afrina. Dia berjanji untuk menemui  ibu bapanya memohon restu sebaik sahaja tamat SPM. Setelah keputusan SPM diumumkan, keputusan kedua-duanya yang tidak memuaskan tidak menjadi batu penghalang dek hanyut dilanda kemabukan cinta. Ibu bapa Afrina tidak melihat sebarang alternatif lain untuk Afrina, melainkan membenarkan mereka berdua berkahwin.

Setelah berkahwin, rupanya langit itu tidak selalunya cerah. Anyaman kebahagiaan yang diharapkan kini menjadi satu jerutan yang menyesakkan. Khalid dibuang kerja berulang-ulang kali, menyebabkan hidup mereka seperti nomad, ditambah lagi dengan buruan oleh Along-along yang menagih hutang. Mereka ke hulu dan ke hilir, memohon ihsan. Khalid semakin kecewa dan tewas dalam kekecewaannya, yang diluahkannya di pub bukan di sejadah. Sejadah dan al-Quran kini menjadi berdebu dalam lipatan kain kuning di stor mereka.

Kenangan indah Khalid sebagai seorang yang berketrampilan punah apabila dia pulang dalam keadaan mabuk dan terbaring di ruang tamu rumah sewa mereka. Afrina mengambil air untuk menyedarkannya kembali. Apabila dia kembali waras, dengan terketar-ketar, Khalid memberitakan bahawa dia telah kalah judi dan taruhannya ialah Afrina! Terbeliak mata Afrina mendengar khabar itu. Khalid seraya mengemas kesemua kepunyaan mereka dan mereka berlari dalam kegelapan malam. Mereka tidur di sebuah rumah tumpangan pada malam itu.

Keesokan harinya, Khalid keluar untuk mencari pekerjaan. Afrina menanti sepanjang hari dengan degupan jantung yang deras memikirkan keselamatan suaminya. Petang itu, Khalid pulang dengan wajah yang berseri-seri. Bibirnya tidak putus-putus mengatakan "Alhamdulillah", sebuah kata yang sudah lama malah kelihatan asing di mulutnya. Mereka berpindah di sebuah agam, yang didiaminya kini. Apabila Afrina bertanya, milik siapakah rumah ini? Khalid akan menggelengkan kepala, memberitakan bahawa ada seorang lelaki berumur pertengahan yang berpakaian seperti seorang korporat, menghulurkan kunci dan alamat rumah ini.

Setelah beberapa hari mendiami rumah agam itu, seorang lelaki yang berpakaian sut hitam mengunjungi mereka. Kepalanya dihiasi kopiah dan berjanggut nipis, bibirnya tidak lekang daripada senyuman. Dia menyampaikan berita gembira kepada kami, bahawa tuannya sudi untuk memberikan pinjaman modal kepada Khalid untuk memulakan perniagaan. Seraya, kami sujud syukur.

Alkisah, Khalid kini berubah menjadi seorang suami yang bertanggungjawab dan taat kepada agama. Perubahannya jelas kelihatan apabila mereka ditaja untuk umrah oleh tuan yang misteri itu. Khalid menangis dalam sujudnya di Masjidil Haram dan Nabawi. Dia kini kembali. Perniagaannya berkembang dengan pesat sekali. Berbekalkan latihan kursus pengurusannya, bisnesnya berkembang dengan maju sekali. Tapi, mereka tidak sesekali lupa dari manakah rezeki itu datang.

Imbas kembalinya terpadam apabila dia mendengar hon motorsikal posmen yang tiba memberikan surat. Dia menatap satu persatu surat, dan tertarik pada sebuah sampul surat yang berwarna ungu muda. Dia membukanya lalu tertulis.


[Karya}: Tiada Sesirna Cinta

Bismillahirrahmanirrahim..Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..


Wahai pemuda,
Daku lihat dikau meliuk-liuk,
Umpama api menanti masa untuk padam

Daku selidik,
Apakah mahasebab yang menjadikanmu rebah,
terkulai dalam keliru dan binasa dalam masygulnya

Ternyata wabak itu cinta.

Wahai pemuda pemudi hingusan,
Mengapakah kau memberatkan hidupmu,
Mengangkat dunia sebelum tiba masanya

Apakah ilmu mu sudah seluas Anbiya'
atau makrifat mu setajam Auliya'
Ataupun, kau sekadar patung yang mencuba

Apakah kegilaan ini?
Maruah dijual untuk sentuhan yang lembut
Yang panasnya tidak sehangat cinta Tuhanmu

Ternyata epidemik itu cinta.

Ya, aku tidak percaya pada cinta,
karna menurut kamusmu, ianya ternyata dusta
definisimu ke ceruk pemikiran sempit manusia.

Dikau mencari tubuh yang perkasa,
Suara yang lunak, dan tubuh yang menggoda,
Apakah itu ada harganya di Mahsyar?

Kau gadaikan permata dan mahkotamu,
untuk diberikan kepada pengemis yang kotor,
di saat Tuhanmu mengetuk di pintumu?

Wahai Tuhan, saksikanlah kesyirikan ini,
mereka menyembah kekasih mereka,
sedangkan perjanjiannya hanya kepadamu.

Ternyata kurap itu cinta.

Mereke merengek karna susahnya hidup ini,
akhirnya diselesaikan dengan torehan dan hirisan,
bukti hidup kehingusan mereka.

Kata mereka gegak bergempita,
ingin harungi lautan api,
Demi Allah, tahukah mereka apa itu api?

Tuhanku, aku tidak mengenal mana pelacur mana perawan,
Aku sudah buta, aku butakan diriku
Karna tidak lagi sanggup meliht kebaculan ini.

Angkatlah daku, ke langit dunia
Bersihkan ku dari kotoran mereka,
karna aku seorang pendosa yang merangkak kembali

Tuhanku, sesungguhnya tiadalah aku berkuasa,
melainkan atas diriku yang papa kedana
Lepaskanlah aku dari ini semua

Tiada lagi bunga yang tidak dicabul,
Tiada permata yang tidak digores,
Tiada perwira yang tidak dikasi

Ternyata kusta itu cinta.

Wahai ahli yang mendengar,
dengarlah bisikan terakhirku,
yang dianyam dalam sepinya malam ini

Jagalah dirimu dari celakanya cinta,
Karna ia mereputkan akal nurani kita,
Melunturkan latifah rabbani kita

Menukar manusia menjadi binatang,
yang lebih teruk dari dubuk padang pasir,
begitulah yang dijanjikan Tuhanmu.

Aku akan pergi,
Dengan tongkat usang dan kitab lamaku,
manusia kini tidak lagi tergamak untuk menerima ku.

Celakalah mereka, kerana telah terpedaya,
aku hanyalah penyampai amaran semata,
kini masanya sudah tiba

Di sepinya sahara, ada deruan namaNya,
Di tingginya gunung, ada pahatan namaNya,
Tempatnya, kini bukan lari di bandar raya

Pulanglah, marilah pulang,
Sahutlah sebelum direnggut,
Patuhlah sebelum diketuk.


Thursday, 20 June 2013

[Tazkirah]: Sang Kerdil Bisa Menggegar Dunia!







Bismillahirrahmanirrahim..Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Salam keadilan di sebalik jerebu dan kabut yang semakin tebal serta meloyakan tekak, peperangan mulut dan senjata di sana sini.

Tujuan ambe menulis post pada kali ini, adalah untuk menampilkan buah fikiran bernas daripada Prof. Dr. Yusuf Abdullah al-Qardhawi, seorang ulama' yang tidak asing lagi pada zaman kontemporari ini dalam kitabnya Fiqh al-Awlawiyyat. Dalam sebuah bab beliau yang menceritakan tentang keutamaan kualiti ke atas kuantiti, beliau ada menyentuh secara ringan tetapi memberi impak yang amat besar kepada ambe, iaitu keutamaan hati budi ke atas tubuh badan.

Ambe orang kerdil, dan dunia ini luas dan besar dan dimonopoli oleh orang yang besar pula. Skala gergasi ini sememangnya meruntunkan semangat ambe untuk terus hidup. Yes, I felt lifeless. Dalam dunia yang penuh materialisme ini, amat susah untuk seorang yang average seperti ambe untuk membina kehidupan bahagia. Itu merupakan sangkaan ambe pada mulanya.

Tetapi, setelah membaca nukilan as-Syeikh, Alhamdulillah mendapat sedikit sebanyak pencerahan.
Bahawa Allah itu sebaik-baik pencipta dan Dia bukanlah Penzalim. Dia menciptakan kelebihan dan kekurangan dalam diri kita, bukan untuk menzalimi kita, sebaliknya untuk kita menggunakan pro dan kontra dalam diri kita untuk mencari erti sebenar kehidupan, dan terutamanya mengenal Dia, Pencinta Abadi.

Analogi yang cukup mudah. Ambe merupakan seorang yang pasif, tapi diangkat menjadi pemimpin. Menjadi seorang pemimpin walaupun kepada seorang yang full package sudah susah, apatah lagi kepada diri ambe. Maka, jelaslah ambe harus bekerja dua kali ganda lebih keras dan lebih sistematik gerak kerjanya kerana kekuatan kepimpinan ambe ibarat berumah di tepi pantai. Maka, inilah apa yang Allah inginkan, untuk mencari jawapan di sebalik kekurangan dalam diri kita. Dengan kekurangan yang Dia berikan, ambo kini mengenal erti bekerja lebih gigih daripada orang lain untuk berdiri sama tinggi, duduk sama rendah bersama orang lain.

Baiklah, kata sang Syeikh:

"Kemuliaan seorang insan misalnya, bukanlah diukur mengikut tinggi badan, kekuatan tenaga, badan yang sasa ataupun kerana paras yang rupawan. Hal-hal tersebut hanyalah termasuk ke dalam perkara luaran dan hanyalah pakaian sementara yang akan lekang ditelan zaman. Tetapi hakikat sejati daripada seorang insan adalah akalbudi dan hatinya. Allah S.W.T telah menyifatkan golongan munafikin sebagai;

Maksudnya,"....dan apabila kamu melihat mereka, pasti kamu akan kagum melihat penampilannya" (Surah al-Munafikin,4)
Allah ta'ala juga telah menyifatkan kaum 'Ad melalui Nabi Hud dengan firmanNya;

Maksudnya:".....dan Allah telah menambahkan kekuatan tubuh dan badan kamu".( Surah a;-A'raf,69)

Namun dengan kekuatan dan ketangkasan tubuh yang dianugerahkan itu, kaum Ad menjadi bongkak , sombong dan takbur seperti yang dijelaskan dalam al-Quranul Karim;

Maksudnya:".........Adapun kaum 'Ad mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benr dan berkata," Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami?" (Surah Fussilat, 15)
Di dalam sebuah hadith, Rasulullah S.A.W menyebutkan,

Maksudnya:" Pada hari Kiamat nanti akan ada seorang lelaki yang bertubuh gagah dan sasa, namun berat timbangannya tidak melebihi sebelah nyamuk di hadapan Allah taala..." ( Imam al-Bukhari dan Muslim daripada Abu  Hurairah. Lihat kitab al-Lu'lu wa al-Marjan hadith bilangan 1773)
Pada suatu hari, Abdullah ibnu Mas'ud memanjat sebatang pokok untuk satu keperluan, lantas ternampaklah kedua betis kakinya yang kurus kering, Tiba-tiba sebahagian sahabat yang lain mentertawakannya, maka bersabdalah Baginda Rasulullah yang hadir di tempat itu, mafhumnya:

"Apakah kamu mentertawakan keadaan betis kakinya yang kurus kering? Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, timbangan kedua betis itu lebih berat di sisi Allah daripada Gunung Uhud..!" (Hadith sahih daripada Ali bin Abu Talib r.a. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad Ibn Hanbal, Abi Ya'la, al-Tabrani dengan sanad yang lebih sahih dari riwayat Abdullah Ibn Mas'ud sendiri. Lihat kitab Majmu al-Zawaid Juzuk 9)

Maka, ayuh wahai para Abdullah Ibnu Mas'ud generasi kini!

Kita buktikan bahawa, akalbudi itulah aset utama, bukannya ketampanan atau kelebihan fizikal. Dunia pastinya satu hari tidak memerlukan orang yang tampan kerana adanya teknologi yang mereka
kecantikan. Satu hari nanti, dunia tidak memerlukan kekuatan karna ada mesin raksasa yang lebih kuat adidayanya. Tapi, dunia sentiasa memerlukan orang yang celik akal dan mata hatinya, karna ianya terbit dari jiwa yang suci, di mana tiada kepalsuan atau teknologi yang mampu menjananya.

Selamat Membina Akhlak!!:DDDDDDDDDDDD



 
 
 
 
 

Saturday, 1 June 2013

[Karya]: Syair Babad



Bismillahirrahmanirrahim..Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

A sword is a warrior's play, and a politician's weapon is his wits and talks, and a sage's heart is his pen. Neither am I a warrior nor a politicians, I as a humble and lowly sage dedicated my life for scholarly activities and scribing. The big question is, does Islam inhibits literacy and literature development? Of course not! Literature was there at the dawn of time, the Gilgamesh Epic in the Sumerian/Mesopotamia Age. And, literature flourished in the centres of the world, stabilizing and enforcing early civilizations with hymms and epics. We have the Iliad, the Odyssey, the Theology, those were not just a bedtime stories, it is a historical evidence! Literature was the space, a never ending void that used by these word "prophets" to express themselves. They were not kings, nor generals. They are just monks and, pages and scribes whose voice were never heard in the supreme hall of kings! So, they use the parchment and the pen, colored the world with their poems and songs.

And, when the Islamic Empire has rooted and ruled a third of the world, literacy was at  its zenith. We have Mevlana Jamaludin Runi, the Whirling Dervish who wrote the Mathnawi, enchanting the public to follow his trance, to whirl in the cold of winter and the scorch of summer. Don't stop their Sema, as their rotation synchronized with the galaxy, filling the void with chants and zikr to the Rabb. Don't stop them or the sun will stop glowing, and the galaxy stop too! And, don't forget Umar Khayyam, the great mathematicians who proved his value not in the the numerics but also aced in the field of words, his Ruba'iyyat.

Thus, their wisdom colored my introvert and passive world, enchanting me to forget about the world. No women, no treasures, nor power! Just Allah, Allah, Allah, and the rhythm continues as the bliss at the cape, the whispers in the desert and the thunder rumbling in the high sky. I present you, a humble work of a sage, a Mourning Sage.

Oh, My light, and my beacon,
hear my pleas and ascend me to you,
give my greetings to my lover
Muhammad Ahmad Zainul Anbiya'

Oh my life and my destination, 
I have wept and howled in agony,
of the trials you struck upon me,
Till the stream stopped,
But the agony continues to linger

Oh Kings of Kings,
I have loved and smiled,
Until my smile turns bitter,
I have hate and loath,
Until my heart ache

Oh Allah the great,
I have fought,
My limbs are gone and my stumps are red,
My eyes are gouged and my tongue was cut,
But, my heart continue to shine,
Loving you eternally,

No men, animal nor plants,
Who has dwelled in the pits and gorge
Of my heart, except You,
Accept my love for you 

The tulip which bloomed in the morning,
Spreading love in its fragrances,
I offered my care and love for it,
But, it shrunk and rejected me

My blemishes are great
And my flaws were distinct,
I am a living abomination
But still, You loved me

Ascend me and unshackle me
From the binds of this hell
It is not the heaven or the hell,
But it is You, my heart cling on

BONUS::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::